Jumat, 23 Oktober 2009

Efek Psikologis Penderita Obesitas

Efek Psikologis Penderita Obesitas


Obesitas adalah istilah yang sering digunakan untuk menyatakan adanya kelebihan berat badan. Kata obesitas berasal dari bahasa Latin yang berarti makan berlebihan, tetapi saat ini obesitas didefinisikan sebagai kelainan atau penyakit yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan.


Obesitas pada remaja sampai saat ini masih merupakan masalah yang kompleks. Penyebabnya multifaktorial sehingga menyulitkan penatalaksanaannya. Obesitas mempunyai dampak terhadap perkembangan remaja terutama aspek perkembangan psikososial. Seorang remaja yang menderita obesitas sering terasing dalam pergaulan, merasa rendah diri, menarik diri dari pergaulan dan mengalami depresi. Selain itu obesitas pada masa remaja berisiko tinggi menjadi obesitas pada masa dewasa dan berpotensi mengalami pelbagai kesakitan dan kematian antara lain penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, dan lain-lain.


Obesitas saat ini sudah merupakan masalah global. Prevalensinya meningkat tidak saja di negara-negara maju tetapi juga di negara-negara berkembang. Perkembangan teknologi dengan penggunaan kendaraan bermotor dan berbagai media elektronika memberikan dampak berkurangnya aktivitas fisik yang akhirnya mengurangi keluaran energi.


Hasil survey Indeks Massa Tubuh (IMT) tahun 2006 di kota Kendari menemukan sebanyak 19,0% penduduk kota Kendari mengalami obesitas, terutama didaerah perkotaan angka prevalensi obesitas cenderung meningkat Hal ini diakibatkan meningkatnya status sosial ekonomi dan perubahan gaya hidup sebagian masyarakat. Beradasarkan hasil survei IMT tahun 1996/1997 didapat bahwa 8,1% laki-laki dan 10,5 % perempuan berumur lebih dari sama dengan 18 tahun mengalami gizi lebih, sedangkan 6,8% laki-laki dan 13,5% perempuan berumur lebih dari sama dengan 18 tahun mengalami obsitas. Berdasarkan penelitian di karawang didapat bahawa status gizi siswa SLTP favorit di pusat kota karawang 19,7% mengalami kegemukan.


Akumulasi lemak dalam tubuh merupakan hasil dari suatu keseimbangan positif antara sumber energi yang masuk dan energi yang dikeluarkan. Hal ini merupakan konsekuensi asupan yang berlebihan pengurangan pengeluaran atau keduanya. Secara umum lemak dalam tubuh adalah 20-27% dari jaringan tubuh untuk perempuan dan 15-22% pada laki laki.


Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku dan gaya hidup, pola makan, serta peningkatan pendapatan mempengaruhi pemilihan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Suatu data menunjukkan bahwa beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup yang menjurus pada penurunan aktifitas fisik, seperti: ke sekolah dengan naik kendaraan dan kurangnya aktifitas bermain dengan teman serta lingkungan rumah yang tidak memungkinkan anak-anak bermain diluar rumah, sehingga anak lebih senang bermain komputer / games, nonton TV atau video dibanding melakukan aktifitas fisik. Selain itu juga ketersediaan dan harga dari junk food yang mudah terjangkau akan berisiko menimbulkan obesitas. Menonton tv berdampak pada kontrol berat badan karena menurunkan aktifias fisik dan mengurangi pembakaran lemak tubuh serta memakan makanan yang tidak bergizi, manis, seperti yang sering ditayangkan diiklan TV.


Bila ditinjau dan aspek psikologik, obesitas dapat merupakan suatu kondisi tersendiri yang antara lain merupakan gejala dari gangguan makan (misalnya bulimia nervosa), atau merupakan kondisi yang berkaitan dengan citra-diri dan harga-diri, yang mempunyai dasar psikodinamika tertentu. Pada makalah ini hanya akan dibahas mengenai obesitas sebagai gejala dari gangguan makan, isertai penanganannya secara garis besar.


Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak.


Etiologinya multifaktorial, baik faktor individual (biologik dan psikologik) maupun lingkungan. Bila faktor yang dapat merupakan etiologi yang berasal dari individu seperti gangguan endokrin, serta faktor organik lainnya ternyata tidak ditemukan, kondisi ini dapat merupakan konsekuensi seseorang yang tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk makan. Bagi orang tersebut., makan dilakukan bukan untuk memenuhi kebutuhan untuk mengganti energi yang telah digunakan dan dikeluarkan pada aktivitas fi sik atau psikologik tertentu, melainkan karena memang ingin makan dan makan, yang tidak mampu dikendalikan olehnya.


Kondisi ingin makan dan makan itu termasuk dalam kelompok gangguan makan dalam PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia) maupun dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental disorders). Gangguan makan tersebut, yang kondisi pasiennya biasanya tampak gemuk atau mengalami obesitas, terdiri atas binge-eating disorder dan bulimia nervosa.


Pada binge-eating disorder gejala yang ditemui yaitu seseorang makan pada suatu periode tertentu, dengan jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat daripada kebanyakan orang, hingga ia merasa benar-benar sangat kenyang (uncomfortably full). Biasanya makan dilakukan tidak pada saat lapar, seorang diri karena malu makan dalam jumlah besar. Biasanya orang tersebut mengalami

depresi atau merasa bersalah setelah makan Bulimia adalah kecenderungan atau dorongan untuk makan banyak, berlebihan, mungkin disertai nafsu makan besar mungkin pula tidak Gejalanya serupa dengan binge eating disorder disertai perilaku mengeluarkan kembali makanan tersebut, baik dengan cara memuntahkan atau dengan menggunakan pencahar.

Tidak ada komentar: