Jumat, 23 Oktober 2009

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

96 % janin dalam uterus berada dalam presentasi kepala dengan ubun-ubun kecil kiri depan sebanyak 58 %, kanan depan 23 %, kanan belakang 11 % dan kiri belakang 8 %.
Janin dengan presentasi kepala disebabkan karena kepala relatif lebih besar dan lebih berat serta bentuk uterus sedemikian rupa sehingga volume bokong dan ekstremitas yang lebih besar berada di atas di ruang yang lebih luas sedangkan kepala berada dibawah di ruang yang lebih sempit.
3 faktor yang memegang peranan penting pada persalinan :
a. Kekuatan ibu, seperti kekuatan his dan mengedan
b. Keadaan jalan lahir
c. Janin.
His adalah kekuatan yang menyebabkan servik membuka dan mendorong janin ke bawah serta masuk kedalam rongga panggul. Mekanisme jalan lahir diantaranya adalah :
a. penurunan (kepala masuk PAP)
b. Fleksi
c. Putar paksi dalam
d. Putar paksi luar
e. Ekstensi/defleksi
f. Ekspulsi
Kepala masuk melintasi pintu atas panggul (promontorium, sayap sacrum, linea inominata, ramus superior ossis pubis dan pinggir atas sympisis) dengan sutura sagitalis melintang, dalam sinklitismus adalah arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul. Dapat juga terjadi keadaan :
a. Asinklitismus anterior adalah arah sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dengan pintu atas panggul
b. Asinklitismus posterior adalah arah sumbu kepala membuat sudut lancip ke belakang dengan pintu atas panggul.
c. Fleksi
fleksi yaitu posisi dagu bayi menempel dada dan ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar. Kepala memasuki ruang panggul dengan ukuran paling kecil ( diameter suboksipitobregmatika = 9,5 cm) dan didasar panggul kepala berada dalam fleksi maksimal.
d. Putar paksi dalam
Kepala yang turun menemui diafragma pelvis yang berjalan dari belakang atas ke bawah depan. Kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intra uterin oleh his yang berulang-ulang pada kepala mengadakan rotasi pada ubun-ubun kecil berputar kearah depan dibawah simpisis.
e. Defleksi
Setelah kepala berada di dasar panggul dengan ubun-ubun kecil di bawah simpisis ( sebagai hipomoklion), kepala mengadakan defleksi berturut turut lahir bregma, dahi, muka dan akhirnya dagu.
f. Putaran paksi luar
Gerakan kembali sebelum putaran paksi dalam terjadi, untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung anak
g. Ekspulsi
Bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan miring dan menyesuaikan dengan bentuk panggul, sehingga di dasar panggul, apabila kepala telah lahir, bahu berada dalam posisi depan-belakang dan bahu depan lahir lebih dahulu, baru kemudian bahu belakang.
Mekanisme persalinan fisiologis penting dipahami, bila ada penyimpangan koreksi manual dapat dilakukan sehingga tindakan operatif tidak perlu dilakukan. Tindakan – tindakan setelah bayi lahir :
a. Segera bersihkan jalan nafas.
b. Tali pusat dijepit pada 2 tempat, pada jarak 5 dan 10 cm, digunting dan kemudian diikat.
c. Tindakan resusitasi --> membersihkan dan menghisap jalan nafas serta cairan lambung untuk mencegah aspirasi. Bila bayi telah lahir, uterus akan mengecil. Partus berada dalam kala III ( kala uri), yang tidak kalah penting dari kala I dan II oleh karena tingginya kematian ibu akibat perdarahan pada kala uri.Mengecilnya uterus akibat his setelah bayi lahir mengakibatkan terjadi pelepasan perlengketan plasenta dengan dinding uterus. Ada 3 cara lepasnya plasenta yaitu :
a. Tengah (sentral menurut Schultze) adalah terbanyak
b. Pinggir (marginal menurut Mathew-Duncan)
c. Kombinasi 1 dan 2.
Kala III berlangsung selama 6 sampai 15 menit, dengan tinggi fundus uteri setelah kala III kira-kira 2 jari di bawah pusat. Prosesnya adalah :
Kepala janin masuk PAP (promontorium, sayap sacrum, linea inoinata, ramus superior ossis pubis dan pinggir atas sympisis) dengan sutura sagitalis melintang. Kemudian kepala janin mengaklami fleksi, yaitu posisi dagu bayi menempel dada dan ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar.
Setelah itu kepala janin mengalami putar paksi dalam yaitu pemutaran 45 derajat dari bagian depan, sehingga bagian terendah dari bagian depan memutar kedepan ke bawah sympisis. Jika peresentasi belkang kepala, maka bagian terendahnya adalah ubun-ubun kecil.
Kemudian setelah PPD selesai dan kepala sampai dasar panggul, terjadilah ekstensi/defleksi yaitu sub occipito tertahan pada pinggir bawah sympisis. Tahanan kepala bayi saat mengalami defleksi terjadi di sub occipito di hipomoclion.
Setelah kepala lahir, maka kepala bayi akan memutar kembali sebanyak 45 derajat kearah punggung bayi untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi akibat PPD.
Setelah PPL, bahu depan sampai di bawah sympisis dan menjadi hipomoclion untuk kelahiran bahu belakang kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir searah paksi jalan lahir.
Tahapan Persalinan
1. Kala I ( Kala Pembukaan )
Ada 2 fase
a. Fase Laten : pembukaan servik lambat 3 cm bisa 7 – 8 jam
b. Fase Aktif : ± 6 jam dibagi 3 sub fase
 periode Akselerasi : ± 2 jam = 4 cm
 periode Dilatasi Maksimal : ± 2 jam = 9 cm
 periode Deselerasi : ± 2 jam = 10 cm
Tahap awal persalinan ini dimulai begitu sudah ada pembukaan leher rahim. His atau nyeri bersalin adalah kontraksi rahim yang teratur, muncul dalam bentuk rasa sakit yang perlahan-lahan makin nyeri dan sering, serta makin lama. Sejak pembukaan 0 cm hingga 3 cm, umumnya persalinan masih berjalan lambat (bisa sampai 8 jam), sehingga masa ini disebut juga dengan fase laten. Setelah itu hingga pembukaan lengkap biasanya berjalan lebih cepat. Keseluruhan tahap ini berlangsung hingga tercapai pembukaan lengkap (kurang lebih 10 cm), dan saat itu persalinan memasuki tahap 2. Tahap ini biasanya berjalan lebih lama pada kelahiran anak pertama (bisa sampai 20 jam) dibanding kelahiran anak selanjutnya.
2. Kala II (Pengeluaran Janin)
a. His terkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama
b. Ada rasa mengedan seperti bab
c. Pada primi : 1 ½ – 2 jam , Multi : ½ – 1 jam
Saat ini, his sudah terasa sangat kuat, lebih sering, dan lebih lama ketimbang sebelumnya. Ibu akan merasakan keinginan mengejan yang sangat kuat dan tidak lagi bisa ditahan. Dokter atau bidan akan mulai memimpin ibu meneran. Caranya, ibu dalam posisi berbaraing terlentang atau miring ke samping, kedua lengan merangkul kedua lipat lutut, kepala dan mata melihat ke arah perut. Seiring munculnya his, ibu meneran/mengedan sekuat-kuatnya, dan dihentikan/istirahat saat his berhenti. Dengan tenaga mengejan ini, janin perlahan-lahan didorong keluar dari rahim hingga kepalanya mulai tampak di mulut jalan lahir. Kadang-kadang, agar persalinan lebih lancar, dokter perlu melakukan episiotomi (memperlebar jalan lahir dengan cara digunting). Perlahan seiring tenaga mengejan ibu, kepala janin akan dilahirkan, yang segera disusul badan dan anggota badan. Setelah lahir seluruhnya, tali pusat akan dipotong. Setelah itu, bayi segera dikeringkan dan dihangatkan, serta diperiksa (pernafasan, warna kulit, detak jantung, tangisan dan gerakannya) untuk memastikan bayi dalam keadaan sehat.
3. Kala III (Pengeluaran Plasenta)
a. Uterus teraba keras , TFU setinggi pusat
b. Proses 5 – 30 menit
5-30 menit setelah bayi lahir, rahim akan berkontraksi (terasa sakit). Rasa sakit ini biasanya menandakan lepasnya plasenta dari perlekatannya di rahim. Pelepasan ini biasanya disertai perdarahan baru. Setelah itu, plasenta akan keluar (dilahirkan) lewat jalan lahir, baik secara otomatis maupun dengna bantuan dokter/bidan. Setelah itu plasenta akan diperiksa guna memastikan sudah lahir lengkap (jika masih ada jaringan plasenta yang tertinggal dalam rahim, bisa terjadi perdarahan).
4. Kala IV (1-2 jam setelah pengeluaran uri)
a. Pengawasan 1 – 2 jam
b. Awas perdarahan post partum
c.
d. Darah < 500 cc , jika > 500 cc disebut PPH ( Post Partum Haemorrhagic )
Setelah persalinan selesai dan plasenta sudah dilahirkan, ibu biasanya masih beristirahat di ruang persalinan hingga 1-2 jam setelah melahirkan. Gunanya agar dokter/bidan bisa mengawasi kondisi ibu agar tidak timbul komplikasi seperti perdarahan pasca persalinan.

Tidak ada komentar: